Selasa, 03 Desember 2013

Askep kejang demam

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kejang demam merupakan kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat. Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam. Anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku, kelojotan dan memutar matanya. Anak tidak responsif untuk beberapa waktu, napas akan terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya. Setelah kejang, anak akan segera normal kembali. Kejang biasanya berakhir kurang dari 1 menit, tetapi walaupun jarang dapat terjadi selama lebih dari 15 menit.
Anak merupakan hal yang penting artinya bagi sebuah keluarga. Selain sebagai penerus keturunan, anak pada akhirnya juga sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu tidak satupun orang tua yang menginginkan anaknya jatuh sakit, lebih-lebih bila anaknya mengalami kejang demam.
Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3 % dari anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah menderita kejang demam. Kejang demam lebih sering didapatkan pada laki-laki daripada perempuan. Hal tersebut disebabkan karena pada wanita didapatkan maturasi serebral yang lebih cepat dibandingkan laki-laki, (M.E. Sumijati, 2000).
Bangkitan kejang berulang atau kejang yang lama akan mengakibatkan kerusakan sel-sel otak kurang menyenangkan di kemudian hari, terutama adanya cacat baik secara fisik, mental atau sosial yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak, (Iskandar Wahidiyah, 1985).
Kejang demam merupakan kedaruratan medis yang memerlukan pertolongan segera. Diagnosa secara dini serta pengelolaan yang tepat sangat diperlukan untuk menghindari cacat yang lebih parah, yang diakibatkan bangkitan kejang yang sering. Untuk itu tenaga perawat/paramedis dituntut untuk berperan aktif dalam mengatasi keadaan tersebut serta mampu memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga dan penderita, yang meliputi aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif secara terpadu dan berkesinambungan serta memandang klien sebagai satu kesatuan yang utuh secara bio-psiko-sosial-spiritual. Prioritas asuhan keperawatan pada kejang demam adalah: Mencegah/mengendalikan aktivitas kejang, melindungi pasien dari trauma, mempertahankan jalan napas, meningkatkan harga diri yang positif, memberikan informasi kepada keluarga tentang proses penyakit, prognosis dan kebutuhan penanganannya, (I Made Kariasa, 1999).
Anak merupakan makhluk yang unik, karena anak memilki karakteristik tersendiri sesuai tahapan usia anak. Kejang demam pada anak diklasifikasikan berdasarkan usia anak. Kejang demam yang biasa dialami anak ialah usia 6 bulan sampai 4 tahun. Jika kejang dialami oleh anak usia lebih dari 6 tahun lebih dikategorikan sebagi kejang tanpa demam (epilepsi).
Berdasarkan hal tersebut kelompok tertarik untuk membahas tentang penyakit kejang demam dan dapat mengaplikasikan dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya kepada anak.

B.     Tujuan penulisan
a.    Tujuan umum
Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan anak pada klien dengan gangguan sistem saraf yaitu kejang demam
b.     Tujuan khusus
Mahasiswa dapat menjelaskan :
a.    Definisi penyakit kejang demam pada anak.
b.    Etiologi penyakit kejang demam pada anak.
c.    Manifestasi klinik penyakit kejang demam pada anak .
d.    Patofisiologi penyakit kejang demam pada anak.
e.    Komplikasi penyakit kejang demam pada anak.
f.    Pemeriksaan diagnostik penyakit kejang demam pada anak .
g.    Penatalaksanaan penyakit kejang demam pada anak.
h.    Asuhan keperawatan yang harus diberikan pada klien dengan kejang demam.












BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Konsep dasar Kejang Demam
1.    Pengertian Kejang Demam
Demam Kejang merupakan kelainan neurologist yang paling sering dijumpai pada anak tertama pada golongan anak yang berumur 6 bulan sampai 4 tahun.. Pada demam kejang terjadi pembahasan sekelompok neuron secara tiba-tiba yang menyebabkan suatu gangguan kesadaran, gerak, sensori atau memori yang bersifat sementara. (Aesceulaplus : 2000 )
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal lebih dari 380 C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. (Arif Mansjoer. 2000)
Kejang demam (febrile convulsion) ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. (Taslim. 1989)
Kejang Demam (KD) adalah kejang yang terjadi pada suhu badan yang tinggi. Suhu badan yang tinggi ini disebabkan oleh kelainan ekstrakranial. (Livingston, 1954)
Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat sementara (Hudak and Gallo, 1996).
Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan demam (Walley and Wong’s edisi III, 1996).
Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).
Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat (1,2). Hal ini dapat terjadi pada 2-5 % populasi anak. Umumnya kejang demam ini terjadi pada usia 6 bulan – 5 tahun dan jarang sekali terjadi untuk pertama kalinya pada usia <> 3 tahun. (Nurul Itqiyah, 2008)
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu tubuh yang sering di jumpai pada usia anak dibawah lima tahun.
Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering dijumpai pada anak. Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38oC) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Penyebab demam terbanyak adalah infeksi saluran pernapasan bagian atas disusul infeksi saluran pencernaan. (Ngastiyah, 1997; 229).

2.    Jenis-jenis demam Kejang :
a.    Kejang Parsial
1)    Kejang Persial Sederhana
a)    Kesadaran tidak terganggu, dapat mencakup satu atau lebih hal  berikut ini :
b)    Tanda-tanda motorik kedutaan pada wajah, tangan atau salah satu sisi tubuh umumnya gerakan setiap kejang sama
c)    Tanda atau gejala otomik, muntah, berkeringat, muka merah, dilatasi pupil.
d)    Somotosenoris atau sensori khusus, mendengar musik, merasa seakan jatuh dari udara
e)    Gejala psikis, rasa takut
2)    Kejang Parsial Kompleks
a)    Terapat gangguan kesadaran, walaupun pada awalnya sebagai kejang parsial simpleks
b)    Dapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik, mengecap-ngecap bibir, mengunyah, gerakan mencongkel yang berulang-ulang pada tangan dan gerakan tangan lainnya
c)    Tatapan terpakau. ( Natsiyah : 2004 )
b.    Kejang Umum.
1)    Kejang Tonik
Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus
2)    Kejang Klonik
Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan pemulaan fokal dan multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1 – 3 detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat trauma fokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolik.
3)    Kejang Mioklonik
Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai reflek moro. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat. Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik.

3.     Etiologi Kejang Demam
Penyebab kejang demam menurut Buku Kapita Selekta Kedokteran belum diketahui dengan pasti, namun disebutkan penyebab utama kejang demam ialah demam yag tinggi. Demam yang terjadi sering disebabkan oleh :
a.    Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA)
b.    Gangguan metabolik
c.    Penyakit infeksi diluar susunan saraf misalnya tonsilitis, otitis media, bronchitis.
d.    Keracunan obat
e.    Faktor herediter
f.    Idiopatik.
(Arif Mansjoer. 2000)











4.    Patofisiologi Kejang Demam
Sumber energi otak adalah glukosa yang melaluui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal, membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) da sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na++) dan elektrolit lainnya kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na++ rendah, sedang dluar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel, maka terdapat perbedaan potensial membran yang disebut potensial membran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh :
a.    Perubahan konsentrasi ion diruang ekstraseluler
b.    Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya
c.    Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan
Pada keadaan demam kenaikan suhu 10C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh dibandingkan orang dewasa yang hanya 15%. Oleh karena itu, kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singlkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel sekitarnya dengan bantua bahan yang disebut “neurotransmitter” dan terjadi kejang. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung tinggi rendahnya ambang kejang seseorang anak akan menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu.
Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38oC sedang anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi bila suhu mencapai 40oC atau lebih. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa berulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada anak dengan ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu memperhatikan pada tingkat suhu berapa pasien m,enderita kejang. Kejang demam yang berlangsung singkat pada ukumnya tidak berbahaya dan ridak meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang yang ber;langsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnea, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme an aerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat yang disebabkan makin meningkatnya aktivitas otot, dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otot meningkat.
Rangkaian kejadian diatas adalah faktor penyebab hingga terjadinya neuron otak selama berlangsungnya kejang lama. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbuledema otak yang menyebabkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi “matang” dikemudian hari sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan. Karena itu kejang demam yang berlangsung lama daat menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga terjadi epilepsi.



5.    Klasifikasi Kejang Demam
Menurut Livingston (1954) Kejang demam di bagi atas dua :
Kejang demam sederhana: Kejang demam yang berlangsung singkat. Yang digolongkan kejang demma sederhana adalah
a.    kejang umum
b.    waktunya singkat
c.    umur serangan kurang dari 6 tahun
d.    frekuensi serangan 1-4 kali per tahun
e.    EEG normal
Sedangkan menurut subbagian saraf anak FKUI, memodifikasi criteria livingston untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana yaitu :
a.    Umur anak ketika kejang antara 6 bulan sampai 4 tahun
b.    Kejang berlangsung sebentar, tidak melebihi 15 menit.
c.    Kejang bersifat umum.
d.    Kejang timbul dalam 16 jam pertama
e.    Pemeriksaan neurologist sebelum dan sesudah kejang normal
f.    Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu setelah suhu normal tidak menunjukkan kelainan.
g.    Frekuensi bangkitan kejang dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.
(Taslim. 1989)

6.    Manifestasi klinis
Gejala berupa:
a.    Suhu anak tinggi.
b.    Anak pucat / diam saja
c.    Mata terbelalak ke atas disertai kekakuan dan kelemahan.
d.    Umumnya kejang demam berlangsung singkat.
e.    Gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekauan atau hanya sentakan atau kekakuan fokal.
f.    Serangan tonik klonik ( dapat berhenti sendiri )
g.    Kejang dapat diikuti sementara berlangsung beberapa menit
h.    Seringkali kejang berhenti sendiri.
(Arif Mansjoer. 2000)
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi diluar susunan saraf pusat ; misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkitis, furunkulosis dan lain-lain.serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik , tonik, klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak akan bangun dan tersadar kembali tanpa ada kelainan saraf.
Klasifikasi kejang demam
Livingston :
a.    Kejang demam sederhana.
b.    2.epilepsi yg diprofokasi oleh demam.
Prichard & Mc Greal :
a.    Kejang demam sederhana.
b.    Kejang demam atipikal.    
Manifestasi kejang demam :
       Saat kejang : Demam, kejang tonik klonik atau grand mal, pingsan 30 detik –5 menit, postor tonik,gerakan klonik,lidah/pipi terjepit,gigi & rahang terkatup rapat,inkontinensia,gangg. Pernapasan,apneu,sianosis.
       Setelah kejang : Sadar kembali dalam waktu beberapa menit atau tidur selama 1 jam/ lebih,amnesia & sakit kepala,mengantuk,linglung.

7.    Komplikasi
Menurut Taslim S. Soetomenggolo dapat mengakibatkan :
a.    Kerusakan sel otak
b.    Penurunan IQ pada kejang demam yang berlangsung lama lebih dari 15 menit dan bersifat unilateral
c.    Kelumpuhan (Lumbatobing,1989)

8.    Pemeriksaan laboratorium
a.    EEG
Untuk membuktikan jenis kejang fokal / gangguan difusi otak akibat lesi organik, melalui pengukuran EEG ini dilakukan 1 minggu atau kurang setelah kejang.
b.    CT SCAN
Untuk mengidentifikasi lesi serebral, mis: infark, hematoma, edema serebral, dan Abses.
c.    Pungsi Lumbal
Pungsi lumbal adalah pemeriksaan cairan serebrospinal (cairan yang ada di otak dan kanal tulang belakang) untuk meneliti kecurigaan meningitis
d.    Laboratorium
Darah tepi, lengkap (Hb, Ht, Leukosit, Trombosit) mengetahui sejak dini apabila ada komplikasi dan penyakit kejang demam.
(Suryati, 2008), ( Arif Mansyoer,2000), (Lumbatobing,1989)

9.    Penatalaksanaan Medis
Pada penatalaksanaan kejang demam ada 3 hal yang perlu dikerjakan yaitu :
a.     Pengobatan Fase Akut
Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang pasien dimiringkan untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Jalan napas harus bebas agar oksigennisasi terjami. Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu, pernapasan dan fungsi jantung. Suhu tubuh tinggi diturunkan dengan kompres air dan pemberian antipiretik.
Obat yang paling cepat menghentikan kejangadalah diazepam yang diberikan intravena atau intrarektal. Dosis diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1-2 mg/menit dengan dosis maksimal 20 mg. bila kejang berhenti sebelum diazepam habis, hentikan penyuntikan, tunggu sebentar, dan bila tidak timbul kejang lagi jarum dicabut. Bila diazepam intravena tidak tersedia atau pemberiannya sulit gunakan diazepam intrarektal 5 mg (BB<10>10kg). bila kejang tidak berhenti dapat diulang selang 5 menit kemudian. Bila tidak berhenti juga, berikan fenitoin dengan dosis awal 10-20 mg/kgBB secara intravena perlahan-lahan 1 mg/kgBb/menit. Setelah pemberian fenitoin, harus dilakukan pembilasan dengan Nacl fisiologis karena fenitoin bersifat basa dan menyebabkan iritasi vena.
Bila kejang berhenti dengan diazepam, lanjutkan dengan fenobarbital diberikan langsung setelah kejang berhenti. Dosis awal untuk bayi 1 bulan -1 tahun 50 mg dan umur 1 tahun ke atas 75 mg secara intramuscular. Empat jama kemudian diberikan fenobarbital dosis rumat. Untuk 2 hari pertama dengan dosis 8-10 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis, untuk hari-hari berikutnya dengan dosis 4-5 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis. Selama keadaan belum membaik, obat diberikan secara suntikan dan setelah membaik per oral. Perhatikan bahwa dosis total tidak melebihi 200mg/hari. Efek sampingnya adalah hipotensi,penurunan kesadaran dan depresi pernapasan. Bila kejang berhenti dengan fenitoin,lanjutkna fenitoin dengan dosis 4-8mg/KgBB/hari, 12-24 jam setelah dosis awal.
b.    Mencari dan mengobati penyebab
Pemeriksaan cairan serebrospinalis dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama. Walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus yang dicurigai sebagai meningitiss, misalnya bila ada gejala meningitis atau kejang demam berlangsung lama.
c.    Pengobatan profilaksis
Ada 2 cara profilaksis, yaitu (1) profilaksis intermiten saat demam atau (2) profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan setiap hari. Untuk profilaksis intermiten diberian diazepam secara oral dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/hari dibagi menjadi 3 dosis saat pasien demam. Diazepam dapat diberikan pula secara intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5mg (BB<10kg)>10kg) setiap pasien menunjukkan suhu lebih dari 38,5 0 C. efek samping diazepam adalah ataksia, mengantuk dan hipotonia.
Profilaksis terus menerus berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat yang dapat menyebabkan kerusakan otak tapi tidak dapat mencegah terjadinya epilepsy dikemudian hari. Profilaksis terus menerus setiap hari dengan fenobarbital 4-5mg.kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis. Obat lain yang dapat digunakan adalah asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari. Antikonvulsan profilaksis selama 1-2 tahun setelah kejang terakhir dan dihentikan bertahap selama 1-2 bulan
Profilaksis terus menerus dapat dipertimbangkan bila ada 2 kriteria (termasuk poin 1 atau 2) yaitu :
a.    sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologist atau perkembangan (misalnya serebral palsi atau mikrosefal)
b.    Kejang demam lebih dari 15 menit, fokal, atau diikuti kelainan neurologist sementara dan menetap.
c.    Ada riwayat kejang tanpa demma pada orang tua atau saudara kandung.
d.    bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi kejang multiple dalam satu episode demam.
Bila hanya mmenuhi satu criteria saja dan ingin memberikan obat jangka panjang maka berikan profilaksis intermiten yaitu pada waktu anak demam dengan diazepam oral atau rectal tuap 8 jam disamping antipiretik.
( Arif Mansyoer,2000)
d.    Prinsip Pengobatan
Tenang, awasi kondisi anak, posisi miring/telungkup, jangan memasukan apapun ke mulut anak, jika kejang > 10 mnt bawa ke RS segera !,berikan obat simtomatik untuk demam, obati penyebab demam.
Mengatasi kejang secepatnya,mencegah kejang lama
       Kejang tanpa demam : bebaskan jalan nafas,turunkan demam,atasi kejang secepatnya,nilai kesadaran,periksa kadar gula darah dan elektrolit,cari etiologi kejang demam.
       Kejang tanpa demam : bebaskan jalan nafas,periksa gula darah,pastikan apakah epilepsi atau bukan,atasi kejang secepatnya,nilai tingkat kesadaran

B.    Konsep Asuhan Keperawatan
1.    PENGKAJIAN
a.    Melakukan anamnese riwayat penyakit meliputi: sejak kapan timbul demam, gejala lain yang menyertai demam (miasalnya: mual muntah, nafsu makan, diaforesis, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll), apakah anak menggigil, gelisah atau lhetargi, upaya yang harus dilakukan.
b.    Melakukan pemeriksaan fisik.
c.    Melakukan pemeriksaan ensepalokaudal: keadaan umum, vital sign.
d.    Melakukan pemeriksaan penunjang lain seperti: pemeriksaan laboratotium, foto rontgent ataupun USG.

2.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.    Hyperthermia berhubungan dengan proses infeksi.
b.    Perfusi jaringan perifer tidak efektif berhubungan dengan kejang.
c.    Risiko infeksi berhubungan dengan proses penyakit, imunitas menurun, prosedur invasive
d.    Risiko kurang cairan berhubungan dengan intake cairan inadekuat.
e.    kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit perawatan dan penyakitnya berhubungan dengan terbatasnya kognitif, kurang paparan terhadap informasi
f.    Cemas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit

3.    RENCANA KEPERAWATAN
a.    Hyperthermia berhubungan dengan proses infeksi.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama….x 24 jam menujukan temperatur dalan batas normal dengan kriteria:
1)    Bebas dari kedinginan
2)    Suhu tubuh stabil 36-37 C
Rencana keperawatan:
Thermoregulasi
1)    Pantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan menggigil/ diaforsis
2)    Pantau suhu lingkungan, batasi/tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi
3)    Berikan kompres hangat hindari penggunaan akohol
4)    Berikan minum sesuai kebutuhan
5)    Kolaborasi untuk pemberian antipiretik
6)    Anjurkan menggunakan pakaian tipis menyerap keringat.
7)    Hindari selimut tebal

b.    Perfusi jaringan perifer tidak efektif berhubungan dengan kejang.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …  jam perfusi jaringan klien adekuat dengan kriteria :
1)    Membran mukosa merah muda
2)    Conjunctiva tidak anemis
3)    Akral hangat
4)    TTV dalam batas normal
Rencana keperawatan:
Perawatan sirkulasi : arterial insuficiency
1)    Lakukan penilaian secara komprehensif fungsi sirkulasi periper. (cek nadi priper,oedema, kapiler refil, temperatur ekstremitas).
2)    Evaluasi nadi, oedema
3)    Inspeksi kulit dan Palpasi anggota badan
4)    Kaji nyeri
5)    Atur posisi pasien, ekstremitas bawah lebih rendah untuk memperbaiki sirkulasi.
6)    Berikan therapi antikoagulan.
7)    Rubah posisi pasien jika memungkinkan
8)    Monitor status cairan intake dan output
9)    Berikan makanan yang adekuat untuk menjaga viskositas darah

c.    Risiko infeksi berhubungan dengan proses penyakit, imunitas menurun, prosedur invasive
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... jam terjadi peningkatan keseimbangan cairan dengan kriteria:
1)    Urine 30 ml/jam
2)    V/S dbn
3)    Kulit lembab dan tidak ada tanda-tanda dehidrasi
Rencana Keperawatan:
Kontrol infeksi
1)    Batasi pengunjung.
2)    Bersihkan lingkungan pasien secara benar setiap setelah digunakan pasien.
3)    Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat pasien, dan ajari cuci tangan yang benar.
4)    Lakukan dresing infus tiap hari
5)    Anjurkan pada keluarga untuk selalu menjaga kebersihan klien dan menjaga pantat selalu kering u/ hindari iritasi.
6)    Tingkatkan masukkan gizi yang cukup.
7)    Tingkatkan masukan cairan yang cukup.
8)    Anjurkan istirahat.
9)    Berikan therapi antibiotik yang sesuai, dan  anjurkan untuk minum sesuai aturan.
10)    Ajari keluarga cara menghindari infeksi serta tentang tanda dan gejala infeksi dan segera untuk melaporkan  keperawat kesehatan.
11)    Pastikan penanganan aseptic semua daerah IV (intra vena).
Proteksi infeksi
1)    Monitor tanda dan gejala infeksi.
2)    Monitor WBC.
3)    Anjurkan istirahat.
4)    Ajari anggota keluarga cara-cara menghindari infeksi dan tanda-tanda dan gejala infeksi.
5)    Batasi jumlah pengunjung.
6)    Tingkatkan masukan gizi dan cairan yang cukup 

d.    Risiko kurang cairan berhubungan dengan intake cairan inadekuat.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama … jam infeksi terkontrol, status imun adekuat dengan kriteria:
1)    Bebas dari tanda dangejala infeksi.
2)    Keluarga tahu tanda-tanda infeksi.
3)    Angka leukosit normal.
Rencana Keperawatan:
Manajemen cairan
1)    Monotor diare, muntah
2)    Awasi tanda-tanda hipovolemik (oliguri, abdomen Pain, bingung)
3)    Monitor balance cairan
4)    Monitor pemberian cairan parenteral
5)    Monitor BB jika terjadi penurunan BB drastis
6)    Monitor td dehidrasi
7)    Monitor vital sign
8)    Berikan cairan peroral sesuai kebutuhan
9)    Anjurkan pada keluarga agar tetap memberikan ASI dan makanan yang lunak
10)    Kolaborasi untuk pemberian terapinya

e.    Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit perawatan dan penyakitnya berhubungan dengan terbatasnya kognitif, kurang paparan terhadap informasi
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama … jam pengetahuan keluarga klien meningkat dengan kriteria:
1)    Keluarga menjelaskan   tentang   penyakit,   perlunya   pengobatan dan memahami perawatan
2)    Keluarga kooperative dan mau kerjasama saat dilakukan tindakan
Rencana Keperawatan:
Mengajarkan proses penyakit
1)    Kaji pengetahuan keluarga tentang proses penyakit
2)    Jelaskan tentang patofisiologi penyakit dan tanda gejala penyakit
3)    Beri gambaran tentaang tanda gejala penyakit kalau memungkinkan
4)    Identifikasi penyebab penyakit
5)    Berikan informasi pada keluarga tentang keadaan pasien, komplikasi penyakit.
6)    Anjurkan klien untuk bedrest dan jelaskan pentingnya bedrest
7)    Diskusikan tentang pilihan therapy pada keluarga dan rasional therapy yang diberikan.
8)    Berikan dukungan pada keluarga untuk memilih atau mendapatkan pengobatan lain yang lebih baik.
9)    Jelaskan pada keluarga tentang persiapan / tindakan yang akan dilakukan

f.    Cemas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan perawatan selama …. x 24 jam cemas hilang dengan kriteria:
1)    Klien tenang dan dapat beristirahat 
2)    klien mau berpartisipasi dalam setiap tidakan yang dilakukan
Rencana Keperawatan:
Pengurangan  kecemasan
1)    Bina hubungan saling percaya
2)    Kaji kecemasan klien/keluarga
3)    Kaji dan identifikasi serta luruskan informasi yang dimiliki  klien mengenai hipertermi
4)    Berikan informasi yang akurat tentang penyebab hipertermi
5)    Validasi perasaan klien dan yakinkan klien bahwa kecemasam merupakan respon yang normal
6)    Diskusikan rencana tindakan yang dilakukan berhubungan dengan hipertermi dan keadaan penyakit





DAFTAR PUSTAKA

Aneka-wacana.blogspot.com. Asuhan Keperawatan Kejang Demam Aplikasi KEJANG DEMAM APLIKASI NANDA, NOC, NIC. Diakses Maret 2012.
Asuhankeperawatanonline.blogspot.com. Diagnosa Keperawatan Termoregulasi. Diakses 09 Maret 2012
Arjatmo T. (2001). Keadaan Gawat Yang Mengancam Jiwa. Jakarta : gaya baru
Betz Cecily L, Sowden Linda A. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC.
Hidayat.wordpress.com. Askep pada anak dengan kejang demam. Diakses 06 Oktober 2009
Pediatrik.com. Kejang Pada Anak
Sacharin Rosa M. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa : Maulanny R.F. Jakarta: EGC.